NAKER.NEWS - Lonjakan harga emas yang terus terjadi dalam beberapa waktu terakhir menjadi sorotan publik, menarik perhatian tidak hanya investor tetapi juga masyarakat luas.
Menurut Soekanto Sairuki, seorang dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya (Unsri), fenomena ini erat kaitannya dengan ketidakstabilan ekonomi global dan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
"Dalam situasi ekonomi yang tidak menentu, masyarakat cenderung mencari instrumen investasi yang aman, dan emas menjadi pilihan utama," ujar Soekanto, Kamis (19/4/2025).
Emas, kata Soekanto, dikenal sebagai aset safe haven yang mampu melindungi nilai investasi di tengah gejolak ekonomi.
"Emas mempunyai daya tahan terhadap inflasi dan fluktuasi harga barang. Kenaikan harganya lebih dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi global dan nilai tukar rupiah," jelasnya.
Baca Juga: Waduh! TPT Turun, Tapi 46 Juta Pekerja Masih Tidak Bekerja Penuh
Data historis menunjukkan bahwa harga emas rata-rata mengalami kenaikan 10 sampai 12 persen per tahun dalam sepuluh tahun terakhir.
"Hal ini membuat emas menjadi pilihan investasi jangka panjang yang menarik," tambah Soekanto.
Soekanto membagi konsumen emas menjadi dua kategori: mereka yang membeli perhiasan untuk penggunaan sehari-hari dan mereka yang membeli logam mulia sebagai investasi.
"Pergerakan harga emas memberikan dampak yang berbeda bagi kedua kelompok ini," katanya.
Lonjakan harga emas juga berdampak pada pelaku usaha perhiasan. Meskipun penjualan mungkin mengalami penurunan jangka pendek, Soekanto yakin bisnis ini akan tetap stabil dalam jangka panjang.
Baca Juga: BPJS Ketenagakerjaan Serahkan Santunan Rp 558 Juta pada 3 Ahli Waris di Palembang
"Kenaikan harga emas dipicu oleh tingginya permintaan, yang menyebabkan kelangkaan. Meskipun ini mungkin menimbulkan kesulitan sementara, bisnis perhiasan diperkirakan akan tetap kuat," ujarnya.
Dampak kenaikan harga emas juga bervariasi di setiap lapisan masyarakat.