Naker.news - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi pemerintahan Prabowo-Gibran kini menjadi magnet investasi baru, khususnya dari China. Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menyatakan bahwa MBG tidak hanya sebagai program sosial peningkat kualitas sumber daya manusia, tetapi juga sebagai peluang investasi yang berpotensi besar.
Anindya menegaskan bahwa para pengusaha China melihat program MBG sebagai terobosan strategis yang mampu memberikan efek berlipat, baik untuk penggerakan industri pangan jangka pendek maupun investasi jangka panjang untuk 80 juta anak dan ibu hamil yang menjadi target program ini. Ini sekaligus membuka peluang industrialisasi dan modernisasi sektor agrikultur Indonesia.
Permintaan kebutuhan pangan harian dalam skala besar, seperti telur dan ayam sebanyak 80 juta butir dan ekor per hari, menjadi daya tarik utama bagi investor untuk masuk dan mengembangkan rantai pasok pangan nasional yang terintegrasi.
Selain itu, Kadin sedang menyiapkan skema baru bernama MBG Gotong Royong atau MBG as a Service yang memungkinkan pengusaha membeli paket dukungan program, mulai dari pengadaan dapur hingga logistik, sehingga partisipasi dunia usaha lebih terorganisir dan terukur.
Baca juga: Trump Diblokir Hakim, Larangan Mahasiswa Asing di Harvard Gagal Total
Skema MBG Gotong Royong dan Pengembangan Dapur
Melalui skema MBG Gotong Royong, Kadin mendorong pelaku usaha berkontribusi nyata dengan mendukung pembangunan dapur-dapur MBG di berbagai daerah. Saat ini sudah ada sekitar 16 dapur yang dikembangkan sendiri dan ratusan lainnya dalam tahap pengembangan di daerah.
Biaya satu dapur diperkirakan mencapai Rp2 miliar yang dapat dibiayai melalui program CSR perusahaan. Namun demikian, pengelolaan biaya per porsi makanan yang hanya sekitar Rp10.000 harus dilakukan secara efisien agar program dapat berkelanjutan tanpa merugi.
Konsep dapur ini diharapkan menjadi titik sentral pengelolaan logistik dan penyediaan bahan pangan, sekaligus memberi kesempatan bagi pelaku usaha lokal untuk berperan aktif dalam pembangunan infrastruktur gizi nasional yang berkelanjutan.
Minat China Mendukung Rantai Pasok dan Teknologi AI
Uniknya, investor dari China tidak hanya tertarik sebagai pemasok bahan pangan, tetapi juga ingin berperan aktif dalam membangun rantai pasok hulu ke hilir. Mereka menyatakan kesediaan untuk mengembangkan pertanian, kebun, hingga infrastruktur produksi di Indonesia.
Beberapa pengusaha China bahkan menawarkan dukungan teknologi mutakhir, termasuk integrasi Artificial Intelligence (AI) dan robotik dalam aspek distribusi makanan MBG untuk meningkatkan efisiensi logistik dan memperluas jangkauan program.
Anindya menyebutkan bahwa meskipun teknologi canggih ini sangat menarik, fokus utama tetap pada pemberdayaan pelaku usaha lokal agar manfaat program bisa dirasakan secara luas dan berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia.
Baca juga: CPNS 2025 Resmi Dibuka Juli, Batas Usia Diperpanjang, Simak Syarat & Cara Daftarnya
Dampak dan Harapan Besar untuk Pertumbuhan Ekonomi
Anindya menilai MBG merupakan model kolaborasi ekonomi baru yang menggabungkan sinergi antara pemerintah dan dunia usaha. Dengan pendekatan modern gotong royong yang profesional, MBG dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan sektor riil, mulai dari pertanian hingga teknologi.