Naker.news Efisiensi anggaran pemerintah berdampak besar terhadap sektor perhotelan di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, hingga menyebabkan ancaman pemutusan hubungan kerja terhadap sekitar 1.000 pekerja hotel.
Penurunan kegiatan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition atau MICE yang sebelumnya menjadi tumpuan utama pendapatan hotel kini menjadi kekhawatiran besar bagi pelaku usaha di bidang perhotelan.
Menurut Asosiasi Hotel Mataram (AHM), pemangkasan anggaran belanja pemerintah menyebabkan sepinya tamu hotel yang berujung pada pengurangan karyawan kontrak maupun harian.
Kebijakan ini juga berdampak pada sektor penunjang lain seperti vendor logistik dan penyedia kebutuhan pokok hotel yang selama ini bergantung pada stabilitas okupansi.
Baca juga: Badai PHK Mengancam, Tapi 67 Ribu Lapangan Kerja Baru Diklaim Hadir
Hotel Mataram Sepi Tamu dan Kurangi Tenaga Kerja
Ketua AHM, I Made Adiyasa Kurniawan, mengungkapkan bahwa pengurangan tenaga kerja dilakukan secara bertahap, dimulai dari tidak memperpanjang kontrak dan menerapkan cuti tidak berbayar.
Ia menyebut bahwa jumlah pekerja hotel di Kota Mataram yang terdampak bisa mencapai seribu orang jika efisiensi operasional dilakukan secara merata di seluruh hotel.
Situasi ini diperburuk oleh rata-rata okupansi hotel yang pada semester I 2025 tercatat di bawah 40 persen, menjadikan sektor ini sangat rentan terhadap guncangan kebijakan fiskal.
Efek domino dari sepinya tamu hotel juga turut menghantam sektor pendukung seperti penyedia bahan makanan dan logistik lainnya yang biasa menyuplai kebutuhan harian hotel.
Baca juga: Lowongan Guru Sekolah Rakyat 2025 Resmi Dibuka Kemensos
Ketergantungan Terhadap Bisnis MICE di NTB
General Manager Prime Park Hotel Lombok, Mukharom, menjelaskan bahwa sebagian besar pendapatan hotel berasal dari kegiatan MICE yang kini nyaris terhenti akibat efisiensi anggaran.
Hotel-hotel di kawasan kota Mataram, Senggigi, hingga Mandalika, bergantung pada sektor MICE yang mencakup lebih dari 40 persen dari total pemasukan hotel.
Lesunya sektor MICE menyebabkan hotel kehilangan pendapatan signifikan, memaksa mereka untuk memotong pengeluaran, termasuk mengurangi jumlah pekerja dan kerja sama dengan UMKM.
Kondisi ini juga berdampak terhadap mitra lokal seperti penyedia suvenir dan pelaku UMKM yang sebelumnya dilibatkan dalam layanan tambahan hotel untuk tamu.