Minggu, 19 April 2026

Pemerintah Siapkan Pelatihan dan Modal untuk Anak SMK yang Putus Sekolah

Photo Author
- Rabu, 2 Juli 2025 | 15:40 WIB
perbedaan lulusan SMA dan SMK (foto: edukasi.sindonews.com)
perbedaan lulusan SMA dan SMK (foto: edukasi.sindonews.com)

Naker.news - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah meluncurkan program pelatihan kerja dan modal usaha bagi anak SMK yang putus sekolah. Melalui program "Gerakan 1.000 APS SMK Berdaya", peserta akan mendapat pelatihan kerja intensif serta akses pada bantuan modal untuk berwirausaha.

Program ini menyasar anak putus sekolah usia produktif melalui dua jalur, yakni pendidikan kecakapan kerja (PKK) dan pendidikan kecakapan wirausaha (PKW). Kedua jalur ini disesuaikan dengan kebutuhan dunia industri dan dunia usaha, serta diselenggarakan di 245 LKP di 33 provinsi.

"Mereka akan mengikuti pelatihan vokasional seperti teknik mesin, otomotif, tata busana, hingga kuliner, sesuai kebutuhan industri lokal," ujar Tatang Muttaqin, Dirjen Pendidikan Vokasi, Selasa (1/7/2025).

Baca juga: Masa Depan Media Dibedah di Mediapreneur Talks

Jalur Kerja dan Sertifikasi

Peserta PKK akan menjalani pelatihan selama satu hingga dua bulan dan mengikuti uji kompetensi di akhir pelatihan. Mereka yang lulus akan memperoleh sertifikat kompetensi untuk melamar pekerjaan di industri mitra LKP.

Tatang menambahkan, LKP yang bekerja sama dengan pemerintah telah memiliki jejaring industri untuk menyerap lulusan. Targetnya, lulusan PKK dapat langsung bekerja maksimal satu tahun setelah pelatihan selesai.

"LKP penyelenggara memiliki jejaring yang siap menampung mereka, kami targetkan peserta terserap di sektor riil," ujar Tatang.

Baca juga: Lokasi Sekolah Rakyat Capai 100 Titik

Peluang Berwirausaha

Bagi peserta jalur PKW, pelatihan berfokus pada pengembangan usaha mandiri, termasuk keterampilan teknis, pelatihan kewirausahaan, hingga pendampingan usaha. Pemerintah juga menyediakan akses modal untuk peserta.

“Contohnya, peserta yang belajar tata busana dibimbing mulai dari menjahit, pemasaran digital, hingga akses bahan baku,” kata Tatang. Proses ini didesain agar peserta siap membuka usaha sendiri.

Program ini tidak hanya menjawab kebutuhan pelatihan kerja, tetapi juga membangun mental kewirausahaan sejak dini di kalangan anak muda putus sekolah.

Baca juga: Gelombang Lulusan Global Merapat ke Indonesia

Optimisme dan Akses Daerah

Program ini menjangkau wilayah 3T dan melibatkan peran pemerintah daerah untuk mengidentifikasi anak putus sekolah yang layak dibina. Salah satu peserta, Nabila Aditya dari Subang, mengaku optimistis bisa memulai usaha menjahit setelah mengikuti pelatihan.

“Saya dulu jurusan tata busana, tapi tidak pernah praktik karena keterbatasan biaya. Sekarang saya belajar menjahit dan ingin buka usaha sendiri,” katanya. Ia kini mengikuti pelatihan di LKP Dwi Tunggal, Subang.

Halaman:

Editor: Wisnu Kuncoro Ardianto

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X