Naker.news - Presiden China Xi Jinping kembali bikin gebrakan. Dalam kunjungan diplomatiknya ke Asia Tenggara, Xi menyerukan persatuan Asia untuk melawan tekanan Amerika Serikat. Ini jadi momen penting di tengah memanasnya tensi dagang antara dua negara adidaya dunia, China dan AS.
Gak cuma itu, Xi Jinping juga menegaskan pentingnya solidaritas kawasan Asia dalam menghadapi politik blok dan dominasi negara besar. Seruan ini disampaikan langsung di Malaysia dan Kamboja, dua negara kunci yang sedang jadi rebutan pengaruh antara Beijing dan Washington.
Xi dan ASEAN: Ajak Kerja Sama, Tolak Hegemoni
Dalam pidatonya di Malaysia, Xi Jinping mengusung konsep “keluarga Asia.” Ia bilang bahwa negara-negara di kawasan harus berdiri bersama melawan konfrontasi geopolitik dan pengaruh luar, alias menyindir Amerika Serikat.
Xi juga menandatangani sejumlah kesepakatan dengan Malaysia, termasuk kerja sama industri, data, hingga pengembangan talenta. Semua ini jadi bukti bahwa China ingin memperkuat posisi di kawasan melalui kerja sama regional ketimbang tekanan seperti yang dilakukan AS.
Sindiran Halus untuk AS, Tapi Tegas
Sebelum ke Malaysia, Xi sempat nulis artikel di media Kamboja yang isinya cukup blak-blakan. Ia menyebut negara Asia harus menolak “hegemonisme” dan “politik kekuasaan” dari pihak luar. Ya, siapa lagi kalau bukan Amerika yang disindir?
Apalagi saat ini AS di bawah Donald Trump kembali gencar mengenakan tarif impor tinggi buat barang-barang China, bahkan sampai 145%! Sebagai balasan, China pun pasang tarif balasan. Tapi Xi tidak mau ASEAN ikut-ikutan, karena menurutnya, itu bisa merusak stabilitas kawasan.
Xi Dapat Dukungan, Tapi ASEAN Masih Hati-Hati
Kunjungan Xi ini dimulai dari Vietnam, lalu lanjut ke Malaysia dan Kamboja. Di tiap negara, Xi disambut hangat dan bahkan berhasil teken puluhan kerja sama baru. Misalnya, Vietnam dan China sepakat menolak unilateralisme, dan Malaysia dukung posisi China soal Taiwan.
Meski begitu, negara-negara ASEAN masih berhati-hati. Sebagian besar tetap berusaha netral, gak mau terlalu condong ke salah satu kubu. Apalagi mereka harus menjaga hubungan dagang yang kuat dengan kedua belah pihak, baik China maupun AS.
Artikel Terkait
Ngeri! 1,2 Juta Pekerja RI Terancam PHK Gara-Gara Tarif Trump, Industri Tekstil & Sepatu Paling Parah!
Emas Fisik vs Emas Digital, Mana yang Cocok Buat Kamu?
Harvard vs Trump: Kampus Elite Amerika Tantang Ancaman Pemotongan Dana Rp36 Triliun
Trump Vs The Fed, Drama Suku Bunga yang Bikin Pasar Deg-degan!
Trump Kenakan Tarif Impor 32% ke Indonesia, CORE Ungkap Alasan di Balik Kebijakan Ini
Nissan Ketar-Ketir Gara-Gara Tarif Impor AS, Produksi Rogue Dipangkas, Ribuan Karyawan Kena Imbas
1.500 Anak Muda Indonesia Dikirim Magang ke Luar Negeri, Menaker, Kalian Duta Bangsa!
Telkom Catat Pendapatan Rp150 Triliun! Transformasi Digital & 5 Bold Moves Jadi Kunci Sukses
MUF Tetap Ngebut! Pembiayaan Tembus Rp5,7 Triliun Meski Industri Otomotif Lagi Lesu
DMAS Bukukan Rp466 Miliar di Kuartal I 2025, Penjualan Lahan Data Center Jadi Andalan StockWatch